Akan tetapi setelah aku pikirkan lagi kisahnya kurang lebih sama dengan kisahku bahkan kisah itu lebih baik daripada kisah masa lalu ku.
Aku punya pacar pertama kali saat berusia 19th saat itu aku kuliah semester 2, aku bahkan tak mengira jika aku akan berpacaran dengannya karena sejujurnya aku tidak menyukai nya 😆
Dia juga tidak terlalu menyukai ku sepertinya karena saat itu dia masih menyukai beberapa wanita namun tak ada yg ia beranikan untuk menyatakannya. Lalu tiba-tiba ada salah seorang teman sekelasku menjodohkan jodohkan aku dengannya katanya dia mirip dengan salah satu artis sinetron waktu itu, tapi menurutku tetap biasa saja. Namun anehnya ntah darimana dan bagaimana ceritanya kami tiba2 menjadi dekat, aku pun tidak tau bagaimana awalnya hanya saja tiba2 kami sering berkirim pesan dan tiba2 saja kami sudah dekat dan menjadi teman tapi mesra mungkin saat itu maksudnya.
Makin hari rasa ingin memiliki ada akan tetapi disisi lain dia masih menyukai beberapa wanita, dan aku masih didekati beberapa pria. Usia nya saat itu 21th kami masih sama2 muda, namun dia juga belum pernah pacaran, aku pun juga.
Kami menjalani hari demi hari layaknya sepasang kekasih akan tetapi dia juga tidak pernah menyatakan perasaannya tapi kami sering bersama 😅
Waktu demi waktu berlalu tiba2 saja waktu sudah berjalan lama dan ternyata sudah disebut pacaran. Hampir setiap hari waktu kuliah ku dipenuhi sesak oleh kenangan tentangnya. Mulai semester 2 hingga aku lulus, namun hubungan kami bukan baik baik saja, semakin hari aku merasa semakin jauh karena LDR
Komunikasi tidak berjalan sebagaimana yg aku harapkan, dalam sebuah hubungan aku tak bisa tanpa komunikasi. Selama itu aku terus mengalah untuk tetap bertahan, aku tetap diperantauan untuk menemuinya setiap bulan tapi aku merasa lelah sendiri hingga memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran. Dan selama aku kembali komunikasi kami juga tidak lancar, sangat jarang bahkan bisa dihitung jari. Aku lelah terus mengalah, aku pikir aku harus merubah haluan. Aku lelah menunggu sendirian sudah hampir 5th lama nya.
Aku berkata aku butuh istirahat dari hubungan ini, aku bukan minta putus tapi aku ingin istirahat. Di sela sela waktu istirahat aku memblokir semua akses dengannya, sosial media whatsapp telpon atau apapun itu semua aku blokir. Aku ingin melihat seberapa butuh dia denganku. Namun nyata nya tak seindah itu, mulai ada orang orang baru yg masuk ke kehidupanku. Aku merasa ahh ini hanya hiburan semata untuk menemani kesepianku, karena jujur saja aku bertahan dengannya karena aku takut dengan status single. Mengalah dan terus mengalah membuatku lelah bahkan aku mulai membuka diri aku ladeni pendekatan pendekatan orang-orang baru itu tapi aku juga tidak ada rasa sama sekali hanya butuh hiburan dan teman kesepian. Aku tidak peduli mereka menganggap apa tapi aku hanya menganggap mereka sebatas teman saja.
Suatu hari dia datang ke tanah kelahiranku meminta kejelasan hubungan, dia bermaksud ingin melamar tapi aku sudah tidak merasakan ada getaran. Aku mengajaknya kerumah orangtua ku namun dia juga tidak mengatakan apapun, dan orangtua ku pun juga tidak bertanya apapun karena aku juga tidak mengatakan apa-apa. Dia pulang dengan rasa kecewa mungkin karena niatnya terhalang saat itu. Setelah itu hubungan kami bukan makin baik namun malah makin memburuk.
Suatu pagi dia mengirimiku pesan yg cukup panjang, intinya mengajakku mengakhiri hubungan. Aku bilang jika itu maumu aku bisa apa karena toh aku juga sudah tak memiliki rasa apa2 batinku saat itu. Dia melakukan panggilan video dia menangis saat itu, yaa menangisi keadaan yg mungkin sudah tak bisa diperbaiki kembali, hatiku hampa. Aku tak tahu harus berkata apa hanya melihatnya menangis saja sepanjang video call nya. Ntahlah aku harus bereaksi apa karena aku sudah terlalu lelah. Mungkin saat itu adalah yg terbaik bagi kami karena jika dilanjutkan pun sepertinya aku sudah tidak mampu mencintainya seperti dulu.
Mungkin agak terlambat namun 3hari setelah itu aku baru menangis, menangis dengan sangat dan menyesakkan hati. Sudah lama aku tidak menangis dan saat itu sangat sakit menurutku. Mungkin karena hubungan kami yg sudah sangat lama, sempat terpikir apakah harus kuucap kata kembali saja. Namun Tuhan menjawabnya dia telah memiliki hati yg baru. Hahaha untung saja aku belum berkata apa apa Tuhan sudah menjawabnya. Tuhan maha baik, menunjukkan segala sesuatu disaat yg tepat dan semestinya.
Di sela gempuran pendekatan2 orang2 baru yg aku pun tak merasakan apa2.
Datanglah seorang pria, 2th lebih muda aku bahkan tak terpikir dia mau denganku. Ceritanya akan berlanjut di postingan berikutnya karena ini dengan orang yg berbeda.
Terimakasih 19-24th ku
Aku masih mengingatnya sampai sekarang, bahkan ketika segala rupa yg sudah pernah kita lalui saat itu. Namun ternyata tidak ada apa2nya dibandingkan kehidupan berikutnyam
Terimakasih
Dan sampai jumpa jika Tuhan mempertemukan disaat yg baik.