Friday, March 25, 2022

Aku dan Ibuku

Adik perempuan ku WA "mbk disuruh tlp ibu"
Setelah 2 bulan sejak terakhir aku bertemu dg beliau ibuku baru mau berbincang dengan ku dengan senang hati aku menelpon tanpa berpikir apapun, ternyata aku salah mengira. Ibuku tetap sama seperti dulu tidak berubah sama sekali. Kami mulai berbicara dan berakhir dengan luka, selalu seperti itu. 

Pertama kali aku mengingat ibuku adalah ingatan tentang pertengkaran2nya dengan bapakku. Sedari aku lahir mungkin, mereka selalu bertengkar hingga yg kuingat hanyalah itu, suatu hari mereka bertengkar hebat kemudian bapakku bertanya dan memberikan 2 pilihan ikut bapak atau ibuk. Pertanyaan itu terus terulang, hingga akhirnya mereka berpisah. Sejak aku mulai masuk sekolah TK kenangan tentang orangtuaku yg membahagiakan sama sekali tidak ada. Yang aku ingat hanya bapak pergi entah kemana, sedangkan ibu bersenang senang dengan pria lain dan aku sangat jelas mengetahuinya. 
Ibuku punya banyak sekali pria simpanan, bahkan aku pernah diajak kerumah semuanya. Aku masih kecil aku hanya terheran heran kenapa begini, kenapa ibuku berbeda. 

Saat aku kelas 5 SD Bpk ibuku rujuk kembali, aku senang karena aku tidak di olok lagi di sekolah. Tapi sepertinya hanya aku yg berhagia atas rujuknya mereka, mereka tidak. Awal2 mereka masih bisa menahan diri hingga kelas 2 SMP aku memiliki adik semua berjalan semestinya. Namun ketika aku menginjak SMA semua berubah, semua kembali seperti dulu. Banyak pertengkaran2 karena ibuku berselingkuh, aku tau sekali bagaimana sifat ibuku tapi aku menyembunyikannya dari bapakku. Aku tetap menceritakan hal baik tentangnya, ketika bapak curhat tentang ibu aku hanya diam saja tidak bisa menjawab karena aku takut sekali mereka bertengkar, aku sudah trauma dengan pertengkaran.aku sampe menghubungi selingkuhan nya agar tidak menghubungi ibuku lagi. Namun tidak digubris sama sekali. Lalu suatu saat ibuku ketahuan sedang menelpon selingkuhan nya dibelakang rumah orang, bapak tau mereka kembali bertengkar hebat, hape ibuku dibanting sampe pecah berkeping2 sebelumnya mereka berebut hp, aku hampir gila melihat kelakuan mereka, malu, sedih, pusing pingin marah semua tumbuh jadi satu. Bapakku sering ke "orang pintar" Karena katanya ibuku digunakan guna orang. Padahal menurutku tidak, dia memang seperti itu bukan karena digunakan guna tapi memang sifatnya sudah begitu.

Waktu berjalan, ketika SMA aku memilih untuk ngekos karena lelah mendengar pertengkaran mereka lelah sekali. Padahal rumahku ke sekolah hanya berjarak 15 menit. 
Kemudian setelah lulus aku kuliah di luar kota, hubunganku dan orangtuaku berbeda dengan hubungan teman2ku dan orangtuanya. 
Setelah kuliah bahkan aku hanya pulang setahun 2x telpon hanya sebulan sekali. Begitulah, karena setiap tlp hanya berujung pertengkaran, perdebatan, dan permusuhan. 

Sama seperti hari ini, ibuku minta ditelpon ternyata ibuku minta ijin menikah lagi (bapakku meninggal satu setengah tahun yg lalu) 
Aku bilang silahkan jika ingin menikah, tapi aku tidak akan mengakui suamimu sebagai bapakku. 
Dia membandingkannya dengan bagaimana dia menyetujui pernikahanku dan suamiku dengan mudah, dia membolak balikkan omongan mencari pembenaran mencari semua alasan. 

Aku tetap berkata "jika ingin menikah silahkan jika itu membuatmu bahagia, tapi satu hal yg perlu ibu tau aku tidak akan pernah mengakuinya" Lebih baik aku tidak tau sama sekali tidak mengenal sama sekali dan tidak berhubungan sama sekali. 
Silahkan jika ingin menikah. Aku sudah lelah dengan semua yg berhungan dengan sodara tiri. Lelaaahhh
Lalu ibuku marah
Ya sudah. 
Memang dia begitu
Harus bagaimana lagi
Tapi aku tetap tidak akan mengakuinya. Itu keputusanku.