Sunday, February 16, 2020

Pengalaman Operasi Sesar

Pengalaman menjadi ibu dengan Operasi Sesar

Saat itu tanggal 25 Oktober 2019 HPL (Hari Perkiraan Lahir) anakku yang sudah diperkirakan Dokter, Bidan, juga Puskesmas. Sejak hamil aku rajin kontrol ke Dokter Kandungan, posyandu, maupun puskesmas entah kenapa aku suka sekali diperiksa 😁 ada perasaan lega saat mengetahui keadaan bayiku baik-baik saja. Setiap pemeriksaan semua selalu normal dan bagus, ketuban bagus, posisi, berat badan, organ-organ lengkap dan semuanya, pun aku juga sudah membayangkan jika melahirkan bisa normal dan lancar karena dari awal semua baik. 
Menginjak usia kehamilan 36 minggu ada sesuatu terjadi saat USG bayiku terlilit talipusat. Yg awalnya aku tenang tiap hari senam yoga hypnobirthing baca buku kehamilan bla bla bla langsung lemah seketika, padahal sebenarnya tidak masalah karena banyak kasus serupa yg tetap bisa melahirlam normal tapi entah kenapa setiap dokter bilang "hati2 sambil diperhatikan gerakan bayi nya y bu, karena ada kalung usus dilehernya" Hati dan pikiran ini berkecamuk tak keruan. (Ingat2 kata2 siapapun akan berpengaruh pada mental ibu hamil maupun pasca melahirkan).
Oke kembali ke HPL, hari itu aku dan suami pergi ke dokter karena memang jadwal periksa juga untuk tanya sudah 40minggu kenapa belum ada rasa2 kontraksi atau apapun itu sebagai pertanda melahirkan. Diperiksalah oleh dokter lewat USG, posisi kepala sudah masuk panggul tapi ketuban sudah mulai keruh. Dikasih waktu 3 hari ya, kalo dalam waktu 3 hari belum ada kontraksi langsung dibawa ke rumah sakit agar dilakukan induksi.
(Duaarr seketika meledak, yg awalnya sudah semangat untuk lahiran normal minim trauma perenium utuh ambyar seketika) pikiran sudah tidak karuan, sebelumnya sudah baca2 jangan sampai di induksi meskipin lahiran normal karena sakitnya berlipat2 ganda. Lalu kami pulang, dirumah otak ini terus berpikir saat itu hari jumat, setelah jumat terlewati tanpa kontraksi tiba hari sabtu aku baca2 semua artikel tentang ketuban keruh induksi dan sebagainya, lalu aku diskusi dg suami dan kuputuskan untuk menghubungi dokternya. Dokter jika sampai hari senin saya belum ada kontraksi saya tidak mau di induksi, saya mau langsung SC saja memperhatikan jika ketuban saya sudah mulai keruh dan di induksi pun belum tentu bisa langsung lahir.
Dokter menjawab, kalo langsung SC gabisa pake BPJS karena prosedur pake BPJS harus induksi dulu kalo tidak ibuk masuk pasien umum. Lalu aku jawab, saya gapake BPJS dok, saya pake asuransi lain.( Saya hanya ingin anak saya cepat lahir dan tidak mengalami masalah karena berada didalam ketuban yg keruh)
Dokter menjawab: baiklah hari senin pagi ibu ke rumah sakit dipersiapkan untuk cek2nya jam 12 siang kita operasi
Kujawab baik dok terimakasih.
Sabtu lewat tanpa kontraksi, minggu lewat tanpa kontraksi, dan tibalah senin.
Senin pagi mulai subuh aku sudah mulai puasa, kupersiapkan mental untuk menghadapi operasi. Suami, ibuk, mertua masih berharap munculnya kontraksi saat itu tidak denganku, aku sudah pasrah. Pasrah segalanya, entahlah saat itu aku sudah tak memikirkan apapun kecuali bayiku keluar dengan selamat dan segera. Aku tak peduli mau dibilang orang takut sakit karena pilih operasi sesar atau apapun yg ingin kalian katakan, TERSERAH. 
Karena sebulan sebelumnya aku sudah siapkan tas lahiran, jadi semua tinggal angkat untuk dibawa ke rumah sakit.
Sampe dirumah sakit melakukan registrasi, periksa ini itu cek darah urin dll, pilih kamar inap urus asuransi yg mulai jam 8 sampai jam 10 baru selesai. Setelah itu aku ke kamar, jangan ditanya deg2qn atau nggak. Udah kek habis lari marathon 9 musim, tiba2 seorang perawat masuk kamar. Ibu lindra, iya saya, saya pasang infus dulu ya, ada alergi obat? G ada mba, saya suntik alergi dulu ya, iya(g pernah bayangin suntikan alergi jarumnya segede2 gaban, sakit banget coi. Saya pasang kateter ya, mba harus dipasang kateter ya, iya soalnya gaboleh naik turun. Sakit g mba, nggak rasanya kek anyang2en. Oke oek percaya ente perawat, sebelum negara api menyerang hingga akhirnya, sesuatu menancap dilubang pipis dan oek teriak, mbaaaaaaakkk sakit banget mbaaakkkk, iya bu makanya jangan tegang tambah gabisa masuk. Tarik nafas bu, oek tarik nafas dia tancepin lagi tuh selang ke lobang pipis dan otomatis oek tereaaak lagi, mbaaaaaakkkkkkkkkkk sakiiiiiittttttttt, ehhh mbaknya emosi, lah dia pikir kagak sakit apa lubang pipis dimasukin selang, dia gapernah nyoba sendiri, coba deh. Pake emosi pulak perawatnya, akhirnya aku dipegangin ibuk, suami dan perawat untuk pemasangan kateter sambil teriak dan nangis 😫😭😭😭😭.
Akhirnya selang hawuk2 itu masuk kedalam lubang kencing yg rasanya mengganjal, mau gerak kesana kemari gabisa, mau pipis kek ketahan, tapi kata suami pipisnya udah banyak dikantong. Ah entahlah dari serangkaian cerita ini itulah yg paling menyakitkan. Lalu perawat lain datang untuk melepas semua bajuku mengganti dengan kain dan selimut, sudah pukul 11 siang saja tiba2. Banyak perawat yg keluar masuk untuk memeriksa ini dan itu mengganti infus masukin obat dll. Hingga pukul 11.30 suami pamitan mau shalat di mushola RS, aku berdua dg ibuk dikamar. Lalu beberapa saat kemudian perawat datang membawa ranjang, hati mulai lemah jantung berdetak kencang, aku dipindahkan dari ranjang kamar ke ranjang yg dibawanya. Kita keruang operasi y bu. Gledek gledek gledek bunyi roda membawaku keruang operasi, diperjalanan ku hanya berdoa agar semua berjalan lancar, akhirnya aku melihat tulisan ruang operasi.
Pertama masuk aku berada pada ruang observasi disitu sudah ada 1 perawat laki2 yg menunggu dg ranjang baru aku diangkat lagi dari ranjang yg digunakan untuk membawaku dari kamar menuju ruang operasi, disitu aku ditanya tentang alergi obat, lahiran ke berapa, kenapa SC dll, menunggu sekitar 10 menit kemudian masuklah keruang operasi, di dalam ruang operasi aku dipindahkan ke meja operasi. Hanya ada 1 perawat itu, memasang deteksi jantung deteksi tekanan darah dan ntah alat apa saja yg dipasangkan ke tubuhku. Diruang operasi udara sangat dingin AC 3 biji nyala semua, ya semua bayangkan betapa dinginnya karena tubuh hanya ditutup selembar kain. Perawat menyuntikkan semua cairan yg dibutuhkan mengecek semuanya, lalu mulai melihat ritme tekanan darahku. G nyangka tekanan darahku bisa naik dan turun begitu cepatnya, kadang 140 kadang 80 kadang 100 tidak menentu. Aku menunggu sekitar 45 menit diruang operasi sendirian, karena tidak boleh ada yg mendampingi, suami sekalipun. Kutanya pada perawat, mas knpa suami saya g boleh masuk? karena ruang operasi harus steril dan nanti kalo suami ibuk pingsan kami yg bingung. Baiklah akhirnya aku sendirian diruang operasi menunggu dokter dan anastesi dtg.
Pukul 12.10 dokter dan rekan2nya dtg lengkap dengan seragam operasinya, petugas anastesi datang lalu menyuruhku untuk melungker agak susah karena perut masih besar kali akhirnya ditekuk dibantu perawat, petugasnya bilang jangan tegang ya rileks akan disuntik disebelah sini (punggung bawah). Disuntik yaa . . . Lalu aku kaget karena g terbiasa disuntik daerah situ. Lalu diulang kembali tetep kaget karena sakit, tapi lebih sakit masang kateter tadi. Setelah semua obat masuk, suruh angkat 1 kaki udah mulai kesemutan belum, udah mulai baal belum aku merasa masih bisa angkat kaki. Tiba2 ada seseorang yg mengoles2 sesuatu yg dingin ke perut, lah ini aku masih berasa kok udah mau disobek aku merasa heboh. Kubilang ke perawatnya mas2 aku masih bisa ngerasain kaki ku. Tenang bu nanti akan hilang rasanya, baiquelah kupercaya sahaja. Tapi memang benar setelah itu aku tidak bisa merasakan kaki ku. Bagian tubuhku mulai perut hingga kaki terasa menghilang. Tinggalah aku kepala hingga payudara  Ditutuplah kelambu hijau disana, tanganku di ikat dengan dipasang kabel2 banyak sekali dimana mana. Aku memasrahkan diri pada Tuhan, karena aku seperti telah dekat sekali dg hidup/kematian, rasa dingin ruang operasi mengingatkanku pada hidup dan mati. Bahkan setelah bius disuntikkan rasa dingin itu semakin lama semakin dalam. Bisa dibilang dinginnya melampaui dinginnya mendaki gunung bahkan lebih dingin, sedingin saat freezer kulkas dibuka. Lalu dokter mulai memimpin operasi, Bismillah kita akan mulai operasinya pukul 12.20 saya dr.xxxx bersama dr.yyyy saya mulai y bu. Lalu perutku berasa dihoyag2 ntahlah rasanya seperti itu beberapa menit kemudian perutku didorong kuat2 aku disuruh ngejan dikit, lalu dr.xxxx mengatakan lahir pukul 12.32 jenis kelamin laki2. Alhamdulillah. Bayiku lahir, anakku lahir, bayiku diserahkan pada perawat, lalu oleh perawat dikenalkan pada payudaraku, diberikan ciuman bayiku. Sambil kedinginan menahan haru sedih dll. Bayiku dibawa keluar entah kemana, aku masih diruanh operasi dengan perut yg menganga(sepertinya) lalu dr. Dan rekan2nya mulai menjahit perutku dan prosesnya sangaatt lama, dingiiiinnnn sekali ruangan itu amat sangat dingin. Aku bertanya pada mas2 perawatnya sambil perutku diobras. Mas kenapa dingin sekali mas, aku merasa seperti dikutub, aku pernah naik gunung ijen tapi g sedingin ini. Iya bu tarik nafas buang nafas gitu diatur nafasnya biar g terlalu dingin. Sudah kulakukan tapi tetap saja dingiiin itu menyeruak kesekujur tubuh hingga aku menggigil, aku merasa apakah aku akan mati kenapa sedingin ini tekanan darah tetap naik turun naik turun. Hingga kudengar percakapan dokter tentang menteri2 baru yg dipilih presiden, dan percakapan yg lain. Lalu selesailah pengobrasan perut ini kelambu hijau dibuka, setengah tubuhku masih tidak berasa apa2 tapi separuh yg lain terasa dingin menggila serasa hipotermia. Dari meja operasi dipindah lagi ke ranjang lain untuk dibawa ke ruang ICU.
Dan ternyata rasa dingin itu tidak habis begitu saja diruang operasi, diruang ICU yg AC cuma 1 saja dinginnya juga luar biasa, mungkin karena masih pengaruh obat bius aku jadi amat sangat menggigil, di ruang ICU berkali kali perawat memeriksa vagina ku untuk melihat seberapa banyak pendarahanku, dan berulang kali memeriksa tensiku, diruang ICU mulai pukul 13.00 sampai pukul 15.30 perawat berulang kali memeriksa hal yg sama dan aku hanya merasakan dingin lalu ngantuk lalu dingin lalu ngantuk, setengah tubuhku masih baal. Sampai disuntik dikaki pun aku tidak merasakan apa2. Berulang kali tensiku naik turun naik turun 130, 140, 90, 80, begitu terus. Sampai tensi stabil dan normal aku mulai dibawa ke kamar perawatan dijemput suami dan perawat2 lain. Sesampai dikamar tubuhku dipindahkan ke ranjang perawatan, belum kurasakan apapun karena masih dalam pengaruh obat bius, perawat memasang semacam pembalut yg lebar banget selebar kasur dan berkali kali melihat bagaimana pendarahannya, g nyangka juga darah nifas yg keluar begitu banyaknya. Btw jadi inget ada orang yg pernah tanya, "emang lahiran dg operasi SC masih ada masa nifas?" Lha menurutmu darah sisa lahiran itu disedot pale kompresor a sama dokter 😑 lanjut cerpen
Itu aku belum bisa gerak karena masih pengaruh bius, oke fine masih tidak ada rasa. Beberapa jam kemudian rasa kesemutan mulai menghilang perlahan, rasa nyeri mulai perut sampe bawah perut mulai terasa. Diperut rasa nyeri karena kontraksi uterus, dibawah perut nyeri karena luka operasi 15cm panjangnya, dibawahnya lagi rasa keluar darah2 yg g terkontrol banyaknya.
Perawat datang membawa suntikan anti nyeri, tapi tetap saja sepertinya itu tidak berpengaruh apa2. Rasa nyeri kontraksi uterus yg mengecil2 kembali proses kembali ke ukuran semula ternyata juga sakit sekali seperti dilepen sampai setiap kali rasa itu dtg aku menangis dipegang suami(iya aku memang secemen itu)
Perawat berkali kali dtg memencet perut untuk melihat posisi uterus baik apa tidak kontraksinya dan parah atau tidak pendarahannya. Setiap kali dipencet rasanya nyeri karena dibawahnya tepat adalah luka jahitan operasi, bisa bayangkan?
Itu terjadi seharian, perawat juga bertanya sudahkah kentut kubilang sudah berkali kali karena untuk masalah perkentutan aku tidak pernah mengalami kendala. Masalah kentut beres (karena jika setelah operasi tidak kunjung mengeluarkan angin katanya akan berbahaya) lalu perawat bilang lagi belajar miring kanan kiri ya bu, aku hanya bilang iya2 saja. Padahal tak kulakukan, kenapa karena aku riweuh sekali dengan keberadaan kateter itu. Aku tak peduli perawat bilang kalo kateternya gabisa lepas karena sidah ada penguncinya, yg aku tau gerakanku terbatas karena kateter itu dan pemasangannya sakit jadi ada trauma mendalam yg timbul dari masalah kateter itu (untukku gatau kalo kalian ya) jadi untuk hari pertama aku tak melakukan miring kanan ataupun kiri hanya telentang, hari kedua setiap perawat dtg bertanya sudah belajar miring kanan kiri kujawab belum perawat bilang sambil belajar duduk ya, ku iyakan saja apa kata mereka tetap saja kateter itu membatasi gerakan gerakanku. Hari kedua aku tetap telentang memberi asi pun aku tetap telentang hanya dadaku ku miringkan sedikit. Hari ketiga dirumah sakit harusnya menjadi hari terakhir tapi kubelum bisa melakukan apa2 hanya bisa telentang aja, pagi itu dihari ketiga ada pergantian shift perawat, ada salah satu perawat nyinyir yg mengatakan pada rekannya dan oek denger banget2. "Itu pasien yg blum bisa apa2 gatau bisa pulang kapak, harusnya hari ini, manja" Iye mbak iyee oek denger yg ente bilang denger meskipun diluar kedengeran banget pintunya ngebukaa mbaakk tolong. Ente belum pernah ngelahirin, coba deh sini ane belah perut enteee. Hmmm emosi juga.
Detik itu juga ku bertekat harus pulang hari itu ntah gimana pun caranya, lalu dokter dtg aku ditanya sudah bisa miring dan duduk kubilang sudah. Padahal belum, lalu dokter menyuruh perawat melepas kateter gila itu. Oke setelah dilepaskan, aku mulai belajar duduk, bukan miring karena miring susah sekali dengan luka panjang dibawah pusar itu. Aku duduk perlahan, sedikit demi sedikit dibantu suami, lalu aku mulai turun dari ranjang dengan kaki yg sangat berat ntah kenapa. Lalu aku berdiri dan ternyata luka dibawah pusar itu terasa membawa beban berkilo kilo, ntahlah apa cuma aku yg merasakannya, berat sekali perut bagian bawahku. Sampai2 berjalanpun aku menyeret kaki. Sekali lagi mungkin karena aku terlalu cemen, kubelajar jalan kekamar mandi muter2 kamar, lalu duduk terus duduk duduk terus, karena berat sekali tapi setidaknya ku sudah bisa bergerak meskipun belum bisa miring. Perawat datang bertanya sudah bisa mobile, kubilang sudah dokter dtg bilang boleh pulang sore ini. Oke fix gueh pulang hari ini perawat nyinyir (muka sinis) wkwkwk